Refleksi Saat Pademi

F.B Suhadi-Guru SMA Sint Louis

Ketika  juri mengumumkan para pemenang perlombaan  menebang pohon, seorang wartawan mewawancaraai pemenang pertama. Dia menanyakan berapa kali dia menebang pohon dalam seminggu. Wartawan itu sempat terkejut ketika  juara blandong itu berkata bahwa dia hanya menggunakan 3 hari dalam seminggu untuk menebang kayu. Wartawan itu mengira bahwa juara blandong ini menggunakan 7 hari dalam seminggu untuk menebang kayu. Maka dengan  penuh keheranan dia bertanya,” Apa yang anda lakukan di luar yang 3 hari kerja itu?” Jawab tukang blandong itu,” Tiga hari dalam seminggu saya bekerja. Dua hari saya beristirahat, dan dua hari sisanya saya pakai untuk mengasah gergaji saya.”  Wartawan itu tercengang- cengang mendengar jawabvan sang juara itu. Dalam hati dia membenaarkan pola piker juara blandong tersebut. Kita tidak bisa menghabiskan seluruh energi kita untuk bekerja. Harus ada waktu untuk mengasah ketajaman daya pikir kita.

Dalam berkarya di bidang pendidikan pun, kita wajib menjaga agar ketajaman daya pikir kita, agar hasil karya kita maksimal. Dan selain itu, agar stamina tubuh kita mampu bertahan, maka kita perlu waktu istirahat cukup.

Ketika saya sekolah dulu, di sekolah Katolik, jadwal belajar saya sangat padat, dan pengalaman belajar saya pun banyak sekali. Tapi dari semuanya itu, tetap ada waktu  tertentu di mana saya  diajak berhenti belajar. Saya diajak para pembimbing untuk retreat dan refleksi. Di sana kami diajak untuk mengumpulkan kembali pengalaman- pengalaman belajar yang telah saya peroleh. Dari kegiataan pengumpulan pengalaman belajar itu, kami diajak untuk berefleksi. Inilah keunggulan sekolah kami, sebab sesudah kegiatan refleksi itu kemampuan dan kesegaran belajar kami bertambah bagus.

Sekarang ini, ketika pempinan saya  menganjurkan kami untuk berefleksi, saya sangat mengapresiasi. Saya tetap yakin bahwa refleksi yang mungkin hanya sekelumit itu, mampu menggairahkan semangat berkarya kami, terutama dalam masa pandemic yang berkepanjangan ini.

Dulu, sebelum masa pandemic ini tiba, hari- hari  saya ini mengalir seperti aliran sungai perkotaan, mengalir tanpa riak. Tenang tanpa problem, bejalan apa adanya dari waktu ke waktu. Tetapi dalam masa pandemic ini, kami masuk dalam masa “ immercy”. Kami dicelupkan dalam situasi yang sama sekali baru. Tiba- tiba, kami harus mengajar dalam remote distancy, dan paperless. Padahal sebelum pandemic ini, wacana paperless ini baru milik sekolah- sekolah kaya yang favorit saja. Sekarang tidak pandang bulu. Dari sekolah yang marginal sampai sekolah  yang ideal, semua harus daring dan paperless.  Perubahan kebiasaan ini tentu membawa konsekwensi yang tidak ringan.  Kami, para guru, dituntut belajar sesuatu yang baru. Kami diajari menggunakan internet, menggunakan google form, e learning, google classroom, zoom, google meet, dsb.

Bagi guru muda, tuntutan belajar, seperti disebutkan di atas, tidaklah menjadi beban. Tapi bagi kami yang sudah mendekati masa- masa pensiun, kegiatan belajaar semacam itu tentu merupakan beban yang amat berat. Tapi  apa mau dikata. Kita mau tidak mau harus memasuki jaman baru, peradaban baru, dan kebiasaan baru. Kita harus berubah. Kita harus menyesuaikan diri. Hal ini sama dengan yang dialami oleh para Bapa bangsa: jaman Menara babel, zaman Nuh, Zaman Sodomah dan Gomorah, dsb. Mereka harus berubah. Mereka harus belajar. Mereka mempelajari hal baru, situasi baru, kehidupan baru.  Jika pantas untuk diperlihatkan, saya ingin menangis menghadapi situasi seperti ini. Tapi buat apa? Apakah dengan menangis tugas- tugas saya, beban saya akan segera berkurang? Maka daripada menangisi kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.

Saya mulai mendekati guru- guru muda untuk minta bimbingan dalam menjalankan tugas  melalui daring. Yang kualami memang membahagiakan. Para guru muda dengan senang hati mebantu saya. Sampai saat ini semua tugas- tugas mengajar bisa saya selesaikan tepat waktu. Lebih dari itu saya masih mempunyai sedikit waktu luang. Itu saya gunakan untuk memperdalam ketrampilan saya mengembangkan bahan ajar, seperti membuat batik, membuat relief, dsb.. Dulu saya hanya berbekal “ Non multum Sed multa”. Artinya menguasai sedikit- sedikit dari banyak hal.  Dengan sedikit waktu luang di sekolah itu dapatlah kuwujudkan istilah “ Non Multa Sed Multum”. Atinya bahwa saya bisa menguasai banyak dari bidang yang harus saya kuasai, meskipun jumlah bidang yang hrs saya kuasai  itu hanya sedikit.

Penutup

“ When there is a will, there is a way!” Itu adalah pepatah yang dapat saya ambil sebagai penguat  keinginan untuk menjalankan tugas- tugas saya, meski menghadapai banyak hambatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *