Pandemi Covid-19, I don’t Give Up!

Oleh : Nona Theresia Distress Retang, S.Ag., M.M (Guru SMA SINT LOUIS Semarang)

 

 

Sekolah, tidak akan lengkap bila tidak ada kehadiran guru dan siswa. Bertahun-tahun selalu bertatap muka, tiba-tiba semua berubah di bulan Maret 2020. Sebagai guru tentu harus beradaptasi dengan kehadiran pandemi covid-19 yang mengakibatkan sekolah-sekolah ditutup dan pembelajaran dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Tidak boleh menyerah dengan keadaan, berani menerima perubahan, banyak hal baru yang harus dipelajari dengan cepat seperti cara menggunakan E-Learning, aplikasi Zoom, Google Meet, Google Classroom, Quizizz, Video maker/Video Panda Compressor, dan masih banyak lagi aplikasi pendukung.

Pengalaman menarik di masa pandemi  yang kudapatkan sungguh beragam, yang awalnya idealis dan menuntut semua siswa untuk bisa mengikuti pembelajaran daring, kini mulai bisa memahami keadaan mereka. Karena tidak semua dari anak-anak memiliki smartphone, kadang harus bergantian dengan orangtua, kuota habis, jaringan/sinyal internet kadang ada kadang hilang, dan sebagainya. Sebagai guru tidak boleh kehabisan cara agar siswanya tetap mau belajar, mix model pembelajaran (lewat WA, GC, Instagram, foto, VC, PPT, Word, video, Zoom, Google Meet, Teams, dsb), memang agak merepotkan tetapi demi anak-anak agar tetap mendapat pendampingan walau memang belum bisa maksimal.

Yang kurasakan sampai saat ini sejak pandemi adalah ketika sistem pembelajaran dilakukan secara daring, saat guru dan siswanya tidak bisa lagi bertatap muka dan berinteraksi di satu ruang yang sama. sesuatu yang hilang itu adalah ikatan emosional antara guru dan siswa-siswanya yang tidak akan mungkin tergantikan oleh komunikasi secara virtual. Tetapi dalam situasi inipun kutetap bersyukur karena dapat mendampingi dan memotivasi anak-anak melalui kegiatan bidang kerohanian secara virtual via Zoom untuk kegiatan rekoleksi, Sarasehan Adven, Perayaan Natal, Sarasehan APP dan menampilkan talenta-talenta mereka.

Sudah setahun lebih pandemi melanda seluruh dunia. Meski terkadang dianggap tegas, namun sering kubercanda dan bermain bersama anak-anak di kelas untuk memecah suasana. Hal inilah yang mulai kurindukan.  Kerinduan itu tidak hanya kurasakan seorang diri. Tetapi semua guru dan para siswa juga mengalami perasaan yang sama. Anak-anak sering bertanya, kapan mereka bisa kembali ke sekolah, sebab mereka sudah rindu bisa belajar dan berjumpa lagi dengan kawan dan guru-gurunya.

Hal ini merupakan nilai positif bagiku, anak-anak itu rindu dengan sekolahnya itu hebat sekali. Kalau anak-anak bisa rindu maka pembelajaran berhasil, tapi kalau anak-anak tidak rindu maka pembelajaran tidak berhasil.

Masa pandemi perlu dilihat sebagai kesempatan membuat sesuatu yang berbeda yang lebih baik. Ada hal yang selalu kuingat pesan seseorang padaku saat kumemilih menjadi guru “Kayu harus siap untuk diukir, dipahat, dan diserut agar menjadi sebuah ukiran kayu yang indah dan penuh makna yang tersirat di balik ukiran tersebut.”  Jadilah guru yang memiliki dan siap mengajari nilai-nilai keutamaan hidup untuk pantang menyerah, berani masuk ke zona tidak nyaman, berdaya juang, dan menjadi pribadi yang tangguh.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *