MEMENDAM RINDU BERSUA MEMBAGI ILMU

(sebuah permenungan saat “Jumat Agung” menderu)

oleh: Esti Endrawati

 

Menyembul mentari di ufuk ceria
Menyinar menghangatkan raga
Membagi energi nan prima
Membawa setiap asa mewujud nyata
Mari, membuka diri pada kehendak-Nya
Memasti merengkuh setiap jiwa
Menyentuh pada tiap lapis realita

Kurang lebih setahun sudah saya menunggu waktu untuk segera bisa bersua dengan para murid duduk lengkap di kelas. Melihat mereka tersenyum juga canda. Kadang berhenti untuk menyimak keluh kesah mereka akan sulitnya pembelajaran. Lalu tertawa riang menikmati keberhasilan mereka saat mampu melewati berbagai tantangan dan rintangan pembelajaran. Dibandingkan dengan saya yang sudah lama hanya berkutat (mengajar) satu mata pelajaran, mereka lebih pintar karna harus belajar sekian belas mata pelajaran. <>

Membayangkan betapa lelahnya para murid karna harus berselancar dalam belajar  melalui layar sempit gawai. Dulu penggunaannya dibatasi namun kini harus menjadi teman karib di realitas keseharian mereka. Meskipun jam pembelajaran yang terjadwal sudah dibatasi namun mereka tetap menggenggamnya demi tugas dan penilaian. Memungkinkan mereka pun berjuang melawan cengkraman gawai yang mengikat erat ruang waktu dan realitas kepastian, menghidupkan keberanian untuk memilih waktu untuk belajar dan sesekali bersembunyi membuka aplikasi dan permainan. J

Setahun sudah kehampaan menyelimuti tiap-tiap sudut sekolah. Bangku-bangku kosong, papan tulis bersih dari coretan ilmu. Selasar hening karna derap langkah dan tegur sapa tiada. Dinding-dinding terbius menyerap sunyi. Ruang BK yang kadang menjadi salah satu ruang favorit untuk curhat pun terasa angkuh. Bangku panjang perpustakaan makin dingin. Lapangan olahraga harus sepi dari hiruk pikuk suara murid karena pantulan bola yang meleset. Dan tak ada pula kumandang “Indonesia Raya” di sana dalam upacara saat bendera dikibarkan oleh taruna-taruni Sint Louis.

Namun jangan salah, kami, saya dan taman-teman guru,  tak ingin terjebak dalam kehampaan itu maka mau tidak mau ruang kelas pun harus dipindah ke ruang virtual. Di sana harus dihadirkan dinamika belajar-mengajar.  Kami bergerak mengikuti tuntutan. Kiblat kami adalah para murid yang mesti memperoleh tidak hanya sekadar haknya untuk belajar tetapi jauh yang lebih penting adalah supaya pembelajaran tidak terputus di tengah jalan. Kami pun bergerak cepat mempelajari banyak metode juga aplikasi yang bisa menjembatani kami untuk membagi ilmu, mendampingi, memotivasi  murid-murid melalui ruang virtual itu. Meski merasakan pula gagap teknologi karna perubahan mendadak ini. Kadang kami payah karena tergopoh dalam mengikuti banyak webinar, workshop, seminar untuk menyerap dan menerapkan ilmu dengan harapan membuat ruang virtual belajar kami dinamis.

Jujur saja, kadang saya pun merasa lelah. Dan bila kelelahan itu tiba bersamaan dengan kelelahan para murid, maka yang terjadi adalah ruang “kelas” bisa “sepi” karena mereka hanya mengisi presensi tanpa hadir “bertatap muka” (via zoom/google meet).   Bahkan sering terjadi pula penundaan pengerjaan oleh murid baik tugas maupun penilaian (evaluasi).

Namun saya menyadarkan diri, tak perlu keluh meski sedang kesuh, tak perlu payah meski tiba lelah. Jalani dengan kesadaran dalam mendampingi dalam mengajar, mendidik anak-anak negeri yang dititipkan untuk merajut masa depan mereka.

Dan kini, genap setahun sudah ruang-ruang kelas virtual terbangun  menjadi tempat bertegur sapa, membagi ilmu bahkan cerita juga canda. Kelak jika ruang kelas kembali dibuka, ruang ini usah disirna karna tuntunan zaman masih memerlukannya. Doa-doa lirih terpanjat; agar belajar kembali lancar, jalan-jalan kembali ramai oleh dinamika pelajar berkendara menuju tempat belajar, tempat-tempat usaha/kantor kembali hidup supaya orangtua pun mudah memenuhi kebutuhan hidup, rumah-rumah ibadah terbuka luas tanpa ada rasa terancam dan pelanggaran. Dan kami pun dalam syukur bersimpuh dengan hati yang lapang menengadah berharap menerima tumpahan berkat dan rahmat. 

Salam hormat saya sampaikan pula untuk para orangtua atas kesediaan, kesetiaan, dan kesabaran mereka yang tiada  pernah sirna oleh waktu dalam menerima tanggung jawab mendampingi dan memenuhi kebutuhan para calon penerus bangsa. Semoga hal itu bisa mendatangkan berkat bahkan menyelamatkan mereka karna bersedia menjadi kepanjangan tangan-Nya dalam menyalurkan berkat kasih-Nya untuk anak-anak yang dititipkan kepada mereka. Waktu bahagia pun pasti akan tiba yaitu saat melihat senyum di bibir anak-anak mengembang karena satu per satu impian dapat mereka wujudkan. Bahkan kelak bahagia itu masih tetap ada jika suatu hari nanti mereka kembali dipanggil pulang kerahibaan-Nya karna berhasil mengantar pada kesuksesan anak-anak mereka. Salut pada mereka, para orangtua.

Sang waktu terus berjalan
Berkeliling menuju zaman
Sesekali ia berhenti menyambangi hati
Merengkuh, membawanya menepi
Dan di sini, sang waktu pun berhenti
di SMA Sint Louis
Wahai kawan, sadarilah kita di sini
Membawa Cinta-Nya yang tak terselami
Mendidik anak negeri
Ingatlah kawan “Kota Roma tidak dibangun dalam satu hari”
Jangan pernah lelah, mari tetap sehati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *