CHANCE TO CHANGE

(Maria AT Januiswanti, S.Pd)

 

Kesendirian,,,

Siapa bilang “sendiri”  itu sepi,,, atau nganggur,,, atau melamun? Jika aku boleh “miring” sedikit mungkin orang berpikir halu,,, atau berkhayal mungkin juga berpikiran kotor. Jujur saja aku pernah mengalaminya. Lebih mudah menyerap hal –hal yang halu  ketimbang apa yang perlu. Dan itu bisa berjam-jam menyita waktu, tetapi,,, jika berhadapan dengan yang perlu,,, semua itu berlalu, tanpa meninggalkan sesuatu dalam kalbu.

Sendiri,,, kata orang “sendiri” itu sepi karena tak ada yang menemani. Ya,, itu pemahaman manusiawi. Aku tidak bermaksud memungkiri, karena keadaanku saat ini sedang “sendiri”. Tetapi kalau kita mau menyadari, pada hakekatnya manusia pada mulanya tercipta seorang diri (bdk. Kej. 2:18a), kecuali mereka yang terlahir tidak “sendiri”.  Bahkan kalau kita mati, juga pasti sendiri.

Pengalamanku “sendiri”, lebih banyak waktu untuk merenung mengenali perjalanan hidup, mengolah diri dan refleksi, menguji keberanian menghadapi diri sendiri, dan yang terpenting kembali menggali nilai-nilai rohani dan mendekatan diri pada yang Ilahi.

“Sendiri” punya arti ambigu/ ganda. Pertama, “sendiri” ditinjau dari keadaan atau situasi yang berarti seseorang yang sedang dalam keadaan sendiri karena yang lain sedang pergi. Kedua, berarti status, yang berarti hidup seorang diri tanpa pendamping, atau hidup seorang diri tanpa ada yang menemani atau hidup bersama orang lain tapi tanpa suami atau istri.

Beberapa waktu lalu aku didatangi seorang tamu di Ruang kerjaku. Beliau adalah teman kerja sesama guru. Sedikit mengingat apa yang dibicarakan, sepertinya terkesan dengan masa laluku. Kira-kira apa sih itu? Bu Esti guru Bahasa Indonesia di sekolahku mulai mengawali obrolannya saat itu.

Beliau adalah guru bahasa Indonesia. Seketika mengawali prolog dari sebuah dialog,  Rasanya aku tahu apa yang sekiranya mengundang beliau untuk mulai bicara sebagai topiknya. Ini penting, karena suatu obrolan harus punya arah dan tujuan. Bukan ngalor ngidul yang tak jelas apa itu. Ujung-ujungnya ngerumpi atau gossip asal digosok semakin sip.

Mau tahu apa itu?

Mari kita simak dan baca terlebih dahulu. Jangan buang waktu yang hanya melulu bersifat halu. Tentu saja aku ingin mengangkat sesuatu yang sangat perlu supaya orang semakin tahu. Jangan merasa sudah tahu, tapi bacalah dulu apapun itu.

“Sendiri bu?” tanya Bu Esti mengawali dialog pagi itu

“Sendiri bu!” kataku mengulangi pertanyaan itu

Jeda waktu,,,

“Memang selalu sendiri”, sambungku sambil tersenyum, Bu Esti pun tersenyum seperti memahami makna kata itu. Lalu kami tertawa membiarkan kata itu berlalu beberapa waktu. Menelan arti ambigu dari kata itu,,, sesaat sunyi sepi dan muncullah dialog itu.

 

 

 

 

Reveal The Past

Inilah awal sebagai cara untuk mengenal, bukan mengungkit untuk mengorek sesuatu yang membuat hati sakit. Seperti tulisan yang lalu aku ini guru baru, dan secara personal mungkin orang ingin kenal dan ingin tahu orang macam apakah aku. Di sini aku bukan mau bicara tentang diriku sendiri tetapi lebih menolong orang lain untuk tahu diriku. Bersyukur bahwa aku sebagai orang baru, mereka mau menyapaku lebih dulu. Mungkin karena instrosvert itu pribadiku.

Kalau di awal tahun ajaran sekolah ada kegiatan siswa MPLS yaitu Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, aku rasa penting juga ada MPSG atau Masa Pengenalan Sesama Guru baru. Ini hanya sekedar celotehan, bukan seharusnya karena  biasanya  pengenalan guru baru akan terlaksana pada waktu kegiatan upacara, berhubung terganggu masa pandemi, silahturami antar ruang kerja itu menjadi cara yang bijaksana. Mengalir saja karena hal ini tidak ada aturannya,  tentu saja cara ini baik juga maka saya sambut dengan gembira.

Dalam silahturami secara pribadi ini, apapun bisa terjadi. Pembicaraan bisa semakin lebih mendalam.  Dari soal kegiatan keseharian  sampai soal hidup yang mengacu pada sebuah pilihan. Jadi ini seperti wawancara pribadi, tetapi aku tak merasa diwawancarai. Semua mengalir begitu saja bahkan apa yang tersembunyi tak sadar membuka diri. Inilah poin penting dari nilai budaya silahturami.

Menyambung lagi soal “sendiri”,,,

“Sendiri” menurut apa yang terjadi pada pengalaman diri ini bukan berarti pemahaman situasi. Bukan juga berarti terasing atau terpisah dari orang lain, melainkan “sendiri” berarti pilihan yang muncul dari keinginan dan kehendak diri. (Bdk KBBI, jagokata.com)

Menurutku “sendiri” lebih fokus pada sikap mandiri, bertindak sendiri dengan segala sesuatu yang dilakukan menurut kehendak diri tanpa orang lain. Nah teman-teman di sini aku tidak bermaksud mengulik, mengusut atau menyelidik arti kata “sendiri”, tetapi untuk menyambung suatu alasan, akibat, pilihan (hidup) dan refleksi. Aku sangat bersemangat jika berbicara soal refleksi, padahal kenyataanya aku terkadang takut pada diri sendiri jika sudah tiba saatnya introspeksi. Tapi inilah seni hidup yang diberikan dari Sang Ilahi untuk mengajar orang menjadi rendah hati.

Make a Choice

Teman-teman pelajar, kita sadar atau tidak sadar selalu berhadapan dengan suatu pilihan yang melekat dengan pasangan. Contohnya: benar-salah, baik-buruk, terang-gelap, quality-unquality, trust-untrust, dst., yang kalian bisa menemukan dalam pengalaman hidup harian.

Aku teringat pada sebuah kisah sederhana tetapi sangat mengesan dan menginspirasi karena mengandung daya ubah yang menggerakkan hati.  Ini pilihan. Aku berharap kisah ini juga bermanfaat bagi teman-teman pelajar yang sedang ingin menemukan pilihan yang bergerak untuk berdaya ubah yang membawa berkah.

Ceritanya begini, ada seorang gadis (bilang aja dari Indonesia), mendapatkan beasiswa untuk study ke luar negeri. Prancis adalah Negara yang menjadi pilihannya, yaitu di salah satu universitas terkenal di Paris. Gadis itu memang cerdas, menguasai bahasa Prancis dan bahasa Inggris-nya juga sangat baik sehingga lulus seleksi.

Sejak mulai kuliah di hari pertama, dia perhatikan bahwa sistem transportasi di Paris menggunakan sistem otomatis. Artinya, kita beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin. Setiap perhentian kendaraan umum, memakai cara self-service dan jarang sekali diperiksa petugas. Bahkan pemeriksaan insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada, bukan karena manajemennya buruk tapi unsur trust dan tertib sosial di sistem transportasi Kota Paris memang sudah baik.

 

Akhirnya lama kelamaan dia temukan kelemahan sistem ini, dan dengan kelihaiannya itu dia bisa naik transportasi umum tanpa harus beli tiket dan dia sudah memperhitungkan kemungkinan tertangkap petugas karena tidak beli tiket, sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik kendaraan umum dengan tidak membayar tiket. Dia menganggapnya sebagai salah satu cara penghematan sebagai mahasiswa miskin yang dengan cara apapun kalau bisa irit, ya diirit. Dia bahkan merasa bangga karena dianggapnya itu sebagai kehebatan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Empat tahun berlalu, gadis itu pun tamat dengan cum laude dari fakultas favorit dan universitas ternama di Paris dengan angka indeks prestasi kumulatif (IPK) yang sangat bagus. Hal itu membuat dirinya penuh percaya diri.

Setelah wisuda, gadis itu pun mulai mengajukan aplikasi surat lamaran kerja ke beberapa perusahan ternama di Paris. Semua perusahan yang dikirimi surat lamaran via email merespon dengan sangat baik karena IPK-nya yang tinggi dan lulusan universitas top di Paris.

Tapi beberapa hari kemudian, semuanya menolaknya dengan berbagai alasan. Hal ini terus terjadi berulang kali sampai akhirnya membuatnya merasa jengkel dan marah. Dia bahkan sampai menuding perusahaan-perusahaan itu rasis karena tidak mau menerima warga negara asing meski lulus cum laude dari universitas ternama di Paris.

Akhirnya, pada suatu hari karena penasaran bercampur dongkol ia memutuskan untuk mengadukannya ke Departemen Tenaga Kerja Prancis di Paris. Dia ingin melapor sekaligus ingin tahu kenapa perusahaan-perusahaan tersebut menolaknya. Tapi, ketika bertemu dengan salah satu manager di kantor Depnaker Paris tersebut, ia mendapat penjelasan di luar dugaannya.

Berikut adalah dialog mereka.

Manager : Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkan Anda. Pada saat anda mengajukan aplikasi pekerjaan di perusahan, kami sangat terkesan dengan nilai akademis dan pencapaian Anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, Anda sebenarnya adalah golongan pekerja yang kami cari-cari.
Nona : Kalau begitu, kenapa perusahan-perusahaan tersebut tidak menerima saya bekerja?
Manager : Jadi begini, setelah kami periksa di database, kami menemukan data bahwa Nona pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.
Nona : (kaget) Ya, saya mengakuinya. Tapi, apakah karena perkara kecil tersebut semua perusahaan boleh menolak saya?
Manager : Perkara kecil?  Kami tidak menganggap itu perkara kecil, Nona. Kami lihat di database, Anda pertama kali melanggar hukum terjadi di minggu pertama Anda masuk di negara ini. Saat itu petugas percaya dengan penjelasan yang Anda sampaikan bahwa Anda masih belum mengerti sistem transportasi umum di sini. Itu sebabnya kesalahan tersebut diampuni. Namun Anda tertangkap dua kali lagi setelah itu.
Nona : Ohh, waktu itu karena tidak ada uang kecil saja.

 

 

 

Manager : Tidak, tidak. Kami tidak bisa terima penjelasan Anda. Jangan anggap kami bodoh. Kami yakin Anda telah melakukannya ratusan kali sebelum tertangkap.
Nona : Well, baiklah. Tapi, itu kan bukan kesalahan mematikan ..? Kenapa harus begitu serius? Lain kali saya perbaiki dan berubah kan masih bisa?
Manager : Maaf, kami tidak menganggap demikian, Nona. Perbuatan Anda membuktikan dua hal: Pertama, Anda tidak mau mengikuti peraturan yang ada. Anda pintar mencari kelemahan dalam peraturan dan memanfaatkannya untuk diri sendiri. Kedua, Anda tidak bisa dipercaya ! Nona, banyak pekerjaan di berbagai perusahaan di negara Prancis ini bergantung pada kepercayaan atau _trust. Jika Anda diberikan tanggung jawab atas tugas di sebuah wilayah, maka Anda akan diberikan kuasa yang besar.Karena efisiensi biaya, kami tidak akan memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Hampir semua perusahan besar di Prancis ini mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa menerima Anda, Nona. Dan saya berani katakan, di negara kami bahkan seluruh Eropa, tidak akan ada perusahan yang mau menggunakan jasa Anda.

Saat itu juga, gadis itu seperti tertampar dan terbangun dari mimpinya dan merasa sangat menyesal. Tapi, penyesalan selalu datang terlambat ketika nasi sudah menjadi bubur atau peristiwa buruk telah terjadi. Perkataan manager yang terakhir membuat hatinya bergetar dan sangat menyesal. Ia akhirnya terdiam seribu bahasa tidak bisa berkata apapun.

Teman-teman Pelajar yang cerdas, hidup adalah pilihan. Di saat ada trust, tetapi justru yang terjadi adalah melanggar batas. Ketika ada aturan ditetapkan, orang mulai mencari cara untuk melakukan pelanggaran. Mungkinkah masih bisa mengharapkan pribadi-pribadi yang lahir dari integritas? Sadarkah kita, bahwa ternyata gadis itu adalah diri kita? Saya ataupun Anda!

Alert to yourself

Moral dan etika (attitude) itu amat sangat penting, bahkan ditempatkan di atas kepintaran, kecerdasan atau kegeniusan. Dalam kehidupan sosial, moral dan etika (attitude) seseorang bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran intelektual. Tetapi IQ atau kepintaran, bagaimanapun tingginya, tidak akan bisa menolong etika moral dan integritas yang buruk.

Kata seorang pakar: “Knowledge without integrity is dangerous and dreadful” (Samuel Johnson, Sastrawan Inggris, 1709-1784), artinya Pengetahuan tanpa integritas pasti berbahaya dan mengerikan. Seperti yang dikatakan juga oleh seorang Guru Besar bernama Clive S. Lewis, Profesor di Universitas Oxford,  penulis novel terkenal Inggris, Tahun 1898-1963, mengatakan: “Integrity is doing  the right thing, when no one is looking. Integrity and honesty are the treasures that humans rarely have,,,” artinya: Integritas adalah melakukan hal yang benar, ketika tidak ada yang melihat. INTEGRITAS DAN KEJUJURAN ADALAH KEKAYAAN YANG PALING JARANG DIMILIKI MANUSIA. …..

Di saat pandemi dan harus melakukan PJJ, tentu banyak berhadapan dengan pilihan-pilihan yang melekat dengan tanggung jawab.  It is an opportunity,,, Which one do you want to choose?       Bu Esti menutup pembicaraan dengan tersenyum, sepertinya paham soal pilihan.

Semoga bermanfaat,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *