Berjuang dan Menang 

                  (Sisilia Kiswanti, S.E.)                     

 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah.     Karena itu,  larilah  sedemikian  rupa, sehingga kamu menang. ( 1 Korintus 9:24)

 

Teks kitab suci tersebut, mengingatkan kita bahwa untuk memperoleh sesuatu, kita harus berjuang, bahkan kadang-kadang harus berkompetisi, seperti  mengikuti pertandingan lari, untuk mencapai garis finish.

Andaikan setiap pagi, kita memiliki semangat untuk menang…, alangkah bahagianya kita hari itu.

Seakan matahari berbicara kepada kita” kawan… mari kita berlari, kita menangkan hari ini…!

Memang setiap hari kita harus berjuang,  memenangkan diri dari rasa malas.  Malas adalah musuh jiwa.  Musuh jiwa setiap orang,  baik anak-anak, remaja, orang tua, pejabat, orang biasa, orang miskin, orang kaya , orang berdosa maupun orang kudus sekalipun. Hanya satu yang tidak bisa dikalahkan oleh musuh tersebut yaitu orang rajin!

Alkisah ada seorang pemuda yang saleh, ia sangat takut akan Tuhan dan berusaha keras untuk hidup kudus dan tidak berdosa.  Setiap kali Iblis menggodanya untuk melakukan dosa, berbohong dan dosa lain, ia selalu menolak dan ia mampu mengalahkan semua godaan. Akhirnya Iblis membujuknya dan berkata : ”Hai Pemuda, hari masih pagi, tidur lagi sedikit tidak apa-apa, berdoa nanti-nanti juga tidak masalah, itu bukan dosa” Si Pemuda mengikutinya dan menunda bangun pagi. Ia bangun kesiangan sehingga lupa doa pagi.  Hari itu ia melakukan kegiatan seperti biasa dan pada sore hari ia mengadakan refleksi untuk melihat kembali kegiatan seluruh hari itu, apakah ia hidup menurut kehendak Tuhan atau tidak. Hati nuraninya mengatakan,  “Hari ini kamu telah melalaikan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bangun pagi, bersyukur dan menyambut matahari pagi”  “Hari ini kamu dikalahkan oleh rasa malas, dan ketika kamu tidak mampu mengalahkan rasa malas, banyak kesempatan baik akan hilang darimu!”

 

Untuk memenangkan banyak kesempatan, dan banyak hal dalam hidup ini, kita harus mampu memenangkan diri dari rasa malas.  Ketika bangun pagi, katakan pada diri sendiri,” Selamat pagi diriku…, mari kita berjuang bersama kalahkan rasa malas, dalam bentuk apa-pun”

“Hari ini adalah kesempatan bagimu untuk berjuang !”  “Tunjukkan pada dunia siapa kamu, kalahkan musuh dalam dirimu…, yaitu  Rasa Malas”!

Ketika kamu memiliki daya juang dan mampu mengalahkan musuhmu, kamu sudah jadi pemenang.  Kamu akan memenangkan banyak kesempatan.  Kesempatan untuk berhasil, kesempatan untuk bertemu teman lebih lama, kesempatan untuk mendapat nilai atau  prestasi lebih baik, kesempatan untuk dihargai dan dipuji sebagai siswa rajin, kesempatan untuk menjadi teladan, kesempatan untuk mendapatkan senyuman simpatik dari teman maupun guru, dan kesempatan untuk menjadi orang saleh yang dipuji oleh Tuhan.   Menjadi orang saleh atau kudus adalah tawaran untuk setiap orang,  pada setiap saat.  Good  Luck !

 KEKUATAN  EMOSI  WANITA 

               Wanita lebih sering melibatkan perasaan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalammengambil keputusan untuk dirinya sendiri, dalam berteman dan berkomunikasi dengan sesama.  Apabila wanita mudah terombang-ambing oleh perasaan maka akan menjadi sangat emosional dan sulit mengikuti  akal  sehat.

Untuk dapat berperan sebagai pribadi sesuai gender, wanita memang sangat membutuhkan kekuatan perasaan, artinya perasaan akan menjadi alat kepekaan mereka sebagai wanita. Pernah seorang remaja putrid sebut saja Christy, bercerita kepada  saya, bahwa har iitu dia sangat kecewa dan marah  dengan orang tuanya.   Betapa tidak  pagi- pagi, kedua orang tuanya sudah bertengkar hebat di depan Christy sehingga ayahnya terlambat mengantarnya  kesekolah.  Dengan perut kosong karena belum sarapan Christy datang  terlambat,  ayahnya  menurunkan  dia di depan sekolah dan meninggalkannya sendirian   menghadapi guru piket.

Christy mencoba  tenang dan tidak menyalahkan orangtuanya atas keterlambatan  itu. Ia mencoba bersyukur bahwa orang tuanya masih mau   mengantarkannya ke sekolah meskipun terlambat.   Ia menyapa guru piket dengan tersenyum seolah tidak terjadi  apa-apa dengan dirinya.

Ketika itu tiba-tiba Christy ingin berdoa untuk  ayahnya, sesaat setelah dia diizinkan masuk kelas.   Keinginan itu begitu kuat sehingga  Christy menghentikan semua kegiatannya dan berdoa untuk  ayahnya.  Teman sebangkunya  menanyakan alasan Christy tiba-tiba  berdoa  sendiri.      Christy tidak menjawab dan hanya   tersenyum.  Hari  itu  setelah  menyelesaikan   pelajaran, Christy pulang seperti biasa.  Ayahnya bercerita  bahwa setelah  mengantar Christy ke sekolah, ia membeli sarapan di warung.  Selesai sarapan dan naik motor pulang hampir saja ia  ditabrak mobil yang nyalib dengan kecepatan tinggi di sebelah kananya, tetapi dengan cepat  ia dapat menghindar ke kiri.  Saat itu bertepatan dengan Christy berdoa.

Keinginan kuat yang muncul dalam hati Christy untuk mendoakan ayahnya adalah kepekaan perasaan wanita  (intuisi).  Intuisi ini dikaruniakan oleh Tuhan untuk memperlengkapi wanita sebagai pribadi.  Intuisi akan makin terasah dan jelas,  ketika wanita membiasakan diri mengenali dan mengelola perasaannya.

Jika wanita melatih diri berulang-ulang untuk  mengenali dan mengelola emosi, maka emosi akan menjadi penolong baginya untuk memberi pemahaman baginya akan apa yang bakal terjadi.

 

 

YUKS…

KITA  KELOLA  EMOSI , BIAR JELAS INTUISI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *