Pendidikan Karakter 

Frans Borgias Suhadi S, S.Pd

(bagian 2- selesai)

Karakter yang ditanamkan di SMA Louis Semarang

            Tiga tahun yang lalu, saya bertanya kepada seorang teman di SMA Sint Louis Semarang, tentang apakah beliau mengikuti wawancara  antara Yon Koeswoyo (anggota grup band KoesPlus) dengan salah seorang reporter TV. Beliau mengiyakan. Saya bertanya lagi, ” Ibu, menurut  Yon (yang diwawancarai),  siapa yang menjadi nyawa dari grup band Koes Plus itu?” Ibu itu menjawab, “ Menurut Yon, nyawa kusplus ada di penggebuk drumnya”. Saya bertanya lagi, “ Kalau dianalogikan, bidang studi apakah yang menjadi nyawa sebuah sekolah, Ibu?” Ibu itu menjawab, “ Tidak tahu, Pak.” Saya mengatakan kepada guru  itu .”Menurut saya dan didukung beberapa ahli pendidikan, yang menjadi nyawa sebuah sekolah adalah guru BP nya.

Demikian sekelumit wawancara saya dengan Ibu Guru tadi . Wawancara ini saya ceritakan ke setiap guru yang mendengarkan saya, termasuk bapak kepala sekolah.  Saya sangat terkesan akan pelaksanaan program Bimbingan dan Penyuluhan di SMA ini. Betapa tidak. Segala sesuatu yang dialami oleh para siswa di sini, Beliau bawa dalam hidup. Jadi tidak hanya dibicarakan di ruang guru atau ruang-ruang pertemuan sekolah, tapi dalam hidupnya, bahkan dalam tidurnya, dalam doanya.Bagaimana tidak? Beliau sudi menyisir ke pasar-pasar untuk mencari seorang siswanya yang sering tidak masuk. Dengan sabar, Beliau berulang kali  menangani murid yang tersesat . Keluar- masuk rumah siswa itu biasa, bahkan bersedia menunggu berjam-jam sampai murid yang Beliau kehendaki untuk dibimbing datang. Beliau merasa tidak enak makan, kalau masalah yang dihadapi muridnya belum selesai. Beliau merasa, bahwa seakan-akan yang mengalami masalah itu adalah anak-anak kandungnya sendiri.  Luar biasa.

Di sini saya tidak ingin mengesampingkan bagaimana para guru yang lain merawat, dan memelihara anak muridnya. Kata-kata yang bisa terucap hanya satu: luar biasa! Suasana merdeka yang di bangun di sekolah ini sangat mengagumkan. Para murid tidak takut dengan para guru, namun sangat segan. Jiwa dan kebudayaan Indonesia sangat kental di sekolah ini.

Ki hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan dan pengajaran di Indonesia ini harus berdasarkan kebudayaan dan jiwa bangsa. Pendidikan dan pengajaran itu harus membahagiakan para siswa lahir dan batin. Anak-anak harus hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri .Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Kebahagiaan lahir diperoleh lewat pengajaran, dan kebahagiaan batin diperoleh lewat pendidikan. Adanya pendidikan budi pekerti, menjadikan  manusia sebagai insan merdeka (berkarakter), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri.

Kemerdekaan itulah yang menurut YB Mangun Wijaya dikatakan sebagai modal utama bagi umat mannusia. Merdeka, di sini, berarti mampu berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaanya, bukan pada nilai-nilai yang datang dari luar sebagai nilai paksaan. Nilai yang harus dipegang teguh inilah yang suatu saat nanti akan berkembang menjadi karakter para siswa kita yang senantiasa berfikir, merasa serta bertindak dengan memakai ukuran, timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap.

 

Karakter khas SMA Sint Louis

disiplin

Di SMA Sint Louis telah dicanangkan 4 karakter khas yang harus dihidupi oleh para siswanya. Karakter-karakter itu adalah: disiplin, tanggung jawab, jujur, dan peduli.

Dari keempat karakter itu barangkali yang terberat pelaksanaannya adalah disiplin, karena menuntut kepatuhan diri sepenuhnya terhadap komitmen yang telah disepakati. Dan sekali lagi, menurut Ki Hajar Dewantara, kepatuhan yang sedemikian itu hanya bisa diajarkan dalam suasana yang merdeka. Menurut Depdiknas 2001, disiplin adalah suatu sikap konsisten dalam melakukan sesuatu. Disiplin dipandang sebagai sikap yang taat asas; taat terhadap aturan yang telah disepakati. Menurut YB. Mangun Wijaya, disiplin yang seharusnya dihidupi di sekolah adalah disiplin yang humanistis, bukan disiplin militer atau disiplin pawang. Disiplin militer mengharuskan kita berbuat persis seperti perintah. Jalankan, dan habis perkara. Disiplin pawang mengharuskan kita berbuat sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, tidak boleh terlalu awal, tidak boleh terlambat. Disiplin yang humanistis mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, lebih peduli, dan lebih toleran.

 

Peduli

Peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap  proaktif dalam memperhatikan keadaan sekitar kita. Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil untuk melakukan sesuatu demi memberi inspirasi, membuat perubahan dan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya. Ketika mereka melihat suatu keadaan tertentu, ketika mereka menyaksikan kondisi memprihatinkan di masyarakat maka mereka akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan ini diharapkan dapat memperbaiki atau membantu kondisi di sekitarnya.    Sikap peduli suka berpihak kepada mereka yang lemah, miskin. Ia tidak bisa tinggal diam menyaksikan penderitaan sesama. Ia suka mengingatkan orang-orang yang selama ini acuh terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya. Selain itu sikap peduli selalu suka memberi solusi.

 

Tanggung Jawab

Pengertian tanggung jawab secara umum adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya,  baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tanggung jawabjuga berarti berbuat sesuatu sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Menurut George Bernard Shaw, orang yang dapat bertanggungjawab terhadap tindakannya dan mempertanggungjawabkan perbuatannya hanyalah orang yang mampu mengambil keputusan dan bertindak tanpa tekanan dari pihak manapun. Untuk itu dibutuhkan suasana kemerdekaan yang sejati.

Jujur

Inilah salah satu pekerjaan rumah terbesar bagi kita semua, yakni menyemaikan spirit kejujuran di hati para siswa kita. Seorang  cerdik – cendikia  berkata, “ Sebuah komunitas atau bangsa akan hancur bukan oleh karena persoalan politik, ekonomi, hukum, pendidikan yang tidak berkualitas,  melainkan oleh kebohongan dan ketidakjujuran yang terus menerus dilakukan. Jujur tak boleh luntur, perjuangannya tak boleh kendur.

Secara umum Jujur diartikan sebagai perilaku yang tulus dalam melakukan suatu yang diamanatkan, baik berbentuk harta ataupun tanggung jawab.

Dalam bahasa Arab, kata jujur  semakna dengan “siddiq” yang berarti benar, nyata, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta. Secara istilah, jujur atau as-sidiq bermakna.

  1. Kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
  2. Kesesuaian antara informasi dan kenyataan.
  3. Ketegasan dan kemantapan hati.

 

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan, bahwa guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, tetapi harus juga mendidik si murid agar dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya dalam hidup bersama.

Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya secara lahir, sedang kemerdekaan hidup batin didapat dari pendidikan karakter. Oleh karena itu saya setuju sekali dengan ungkapan character first, smart as well, yang merupakan slogan Sekolah Ini. Berkah Dalem.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *