PERSPEKTIF IKON WAJAH DIRI

(oleh: Maria AT Januiswanti)

 

Sadarkah kita? Kita sering tidak menyadari sebagaimana tahun-tahun berlalu, dan kehidupan ini berubah begitu cepat. Budaya jaman cepat beralih dan dikuasi teknologi yang canggih. Sebagian kehidupan anak muda dan orang tuapun mengikuti arus. Kitapun tidak ingin merasa ketinggalan hidup di arus jaman. Melek teknologi, gadget atau digital. Bagi mereka yang tertinggal akan tergilas, sedangkan mereka yang mengikuti arus akan tergerus. Akankah kita melawan arus? Dalam situasi seperti ini mana yang Anda pilih? Tidak tergerus arus tetapi juga tidak melawan arus. Mengenal arus tidak perlu tergerus tetapi mengalir terus karena sadar arus. Maka perlu hidup tidak melulu hanyut, tetapi tetap sadar berada dalam arus kehidupan kekinian, mengikuti ke-baru-an ataupun ke-update-an.

Saya bukan tipe orang modern bahkan tak mengenal fashion. Saya lebih tepat dikenal tipe old fashioned bahkan berseberangan dengan gaya dan pola hidup gadget atau digital dan semacamnya. Ternyata tidak mudah ikut arus jaman yang semakin hari semakin cepat perubahannya. Tetapi ada alasan yang akhirnya saya harus mengikutinya. Pekerjaan adalah salah satu alasannya. Yang lain adalah sarana pengetahuan dan  pelayanan.

Inilah pilihan. Mana yang Anda pilih?

Suatu pilihan merujuk pada sebuah keputusan. Dan sebuah keputusan menandai suatu perjalanan hidup setiap orang dalam menemukan jati diri yang semakin matang. Siapakah kamu dan siapakah Aku. Mari mengenal diri melalui pengalaman hidup sehari-hari. Siapakah Aku?

Aku,,,

Ya aku

Inilah kisahku

Berproses dalam mengenal dan menemukan jati diri dalam setiap pergulatan dan menggapai tantangan

Aku begitu kecil di setiap sudut mata,

Disertai mimik beribu makna

Senyuman bahkan cibiran,

Tulus atau kecut

Terkadang begitu cepat menganalisa namun lambat menemukan makna

 

Setiap langkah dan derap merayap tersudut

Bahkan telinga mendengar setiap pembicaraan orang di setiap lorong dan sudut

Setiap derap langkahku bahkan gerak gerikku menjadi pembicaraan

 

Aku begitu kecil di setiap sudut mata yang memandang

Acapkali hilang ke-jati diarian-ku, luluh lantak tak mampu

Memandang setiap mata

Seolah aku telanjang,

Dan aku bergetar dan hilang pegangan,,, kosong tak terucapkan

Semua perbuatanku menjadi tak leluasa

Menimbulkan kesan bahagia nan semu…

 

Kebebasan yang kumiliki hanya berkhayal

Tak seorangpun kan menduga apa yang kupikir

Kebebasan yang kumiliki adalah sesuatu

Kelebihan manusia dari segala yang ada

Kusadar itu harus menjadi masa lalu

Semua itu hanya Tuhan yang tahu…

semua perbuatanku dan ketidakleluasaanku

Menimbulkan kesan bahagia

Siapa yang tahu bahwa semua hanya semu…

Palsu?  Atau munafik?

Entahlah,,,

Kusadar topengku,,, Mana topengmu?

Bersabarlah, karena sejatinya engkau akan tahu

Semua itu hanya Tuhan yang tahu

 

Sebuah seruan dari suatu pengalaman hidup. Tergilas oleh suatu budaya. Apakah kita bisa membacanya? Bukan sekedar menata huruf, tetapi apa yang tersirat.  Saya bilang bahwa saat ini orang mulai memeluk Budaya ambyaaaarrr. Ambyaaarrr karena keutamaan hidup sudah bukan menjadi tujuan. Saat ini Budaya hidup yang dipeluk adalah nominal atau untung rugi, egois, materialistis, hedonis, dan instan.

Jaman ini adalah jaman gadget atau digital. Dengan digital segala urusan bisa tercover. Tujuannya beragam, popularitas, relationship, busniss, dll. Semua itu berlabuh pada keuntungan atau uang dan benefit. Sejauh pengamatan dan pengalaman saya memiliki beberapa akun di media social, sarana digital bisa digunakan orang untuk mengubah identitas diri menjadi orang lain. Salah satu contoh foto digital. Dari manfaat foto digital orang yang tampak tua bisa berubah menjadi muda, yang hitam menjadi putih, yang gemuk menjadi kurus, yang bisul di muka menjadi halus, dll. Artinya bahwa setiap orang ingin tampak sempurna di mata orang lain. Dari soal foto saja orang ingin menipu orang lain melalui visual dengan menutupi keburukan atau kekurangannya. Sayapun melakukannya. Kata orang: “Ya,,, sah sah saja, sejauh itu tidak merugikan orang lain”.  Tetapi pada kenyataannya ada juga sarana-sarana semacam ini digunakan untuk membuat fake, palsu atau gadungan agar orang tertipu. Kebiasaan semacam ini akan melahirkan kebiasaan orang tampil palsu atau bertopeng. Seperti juga kebiasaan menge-prank dengan memunculkan adegan-adegan palsu untuk merusak perasaan orang lain. Ada lagi dengan menggunakan cerita-cerita dan janji-janji yang muluk sehingga orang lain menjadi terbuai dan akhirnya kehilangan akal sehat dan tidak sadar bahwa mereka sedang dibohongi atau ditipu. Ketika orang terbuai oleh janji-janji manis, maka mereka digerakkan oleh perasaan. Lalu kesempatan ini digunakan penipu untuk meminta apa saja yang diinginkannya. Konten-konten semacam ini sering muncul di dunia digital, dan menurut saya hal itu sangat tidak mendidik dan mengaburkan nilai-nilai keutamaan . Orang mudah curiga terhadap sesamanya.

Mengapa harus bertopeng?

Apa itu topeng?  Topeng menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia:

1) penutup muka (dari kayu, kertas, dan sebagainya) yang menyerupai muka orang, binatang, dan sebagainya
contoh: ‘waktu merampok dia memakai topeng

2) kepura-puraan untuk menutupi maksud sebenarnya; kedok (Kata kiasan)
contoh: ‘gerakan kebatinan itu sebenarnya hanya sebagai topeng organisasi yang terlarang’

 

Kamus Bahasa Indonesia menyebutkan dengan jelas apa arti topeng. Sedangkan makna topeng digambarkan ke dalam suatu contoh. Pertama arti topeng adalah penutup. Penutup wajah bermakna agar orang lain tidak mengenali jati diri seseorang yang sedang melakukan perbuatan yang kurang terpuji, yaitu mencuri. Tujuannya adalah untuk menghilangkan jejak diri agar tidak dikenali. Yang kedua kepura-puraan, diartikan gadungan, palsu, atau munafik. Apa yang tampak tidak seperti apa yang sesungguhnya. Tujuannya untuk menipu orang lain. Saya  menyimpulkan bahwa topeng memiliki arti dan makna yang kurang baik.

Topeng versus Jati diri

Berproses dan berkembang bersama orang lain adalah budaya hidup yang dikembangkan di masa saya kecil. Hidup diukur dengan kepedulian, kepekaan dan bekerjasama dengan orang lain. Ukurannya adalah ketajaman suara hati. Manusia dibangun dengan nilai-nilai rohani dan jasmani menurut tiga skema. Aku — Tuhan — dan sesama. Sikap kepedulianku terhadap sesama melukiskan sikap relasiku terhadap Tuhan. Maka jika aku memiliki relasi baik terhadap Tuhan, aku juga akan memiliki relasi baik terhadap sesama. Relasi memiliki makna yang luas yaitu iman, peka, peduli, saling membantu, memberi tanpa mengharap kembali, dll. Ajaran gereja mengartikan sebagai nilai-nilai luhur. Nilai-nilai ini yang seharusnya ditanamkan dan mengakar dalam hati setiap orang.

Hampir 3 bulan ini saya berada di tempat kerja baru. Tepatnya di tempat kerja karya pendidikan. Saya tergabung dalam satu bidang pendidikan dalam team kerja yang sama sekali berbeda dengan latar belakang pendidikan saya. Yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagaimana saya sungguh banyak menimba pengetahuan dan pengalaman baru. Sharing kekayaan pengalaman dalam karya, pelayanan, tentang hidup dan iman. Pembelajaran yang terus menerus dan memberikan banyak pencerahan yang menggembiakan. Pengalaman kelam yang akhirnya menjadi suatu pengalaman bermakna dan berharga untuk menjemput masa depan yang penuh harapan. Hal ini sangat menginspirasi. Jika ditarik nilai-nilainya akan sangat berguna pula bagi anak-anak didik atau kaum muda di jaman now yang sarat menghadapi banyak tantangan hidup yang menuntut mereka untuk mampu mengimbangi perkembangan jaman yang serba instan. Hal ini bisa berdampak positif tetapi juga berakibat fatal bagi mereka yang tidak mampu mengimbangi kemajuan jaman seperti ini. Akibatnya orang akan mudah tertekan dan stress karena tergilas arus jaman. Fatalnya orang bisa putus asa bahkan bunuh diri karena tidak mau berproses dan tidak mampu menghadapi tantangan.

Di tempat baru ini saya berjumpa dengan satu pribadi yang luar biasa excited dan menginspirasi. Menurut saya ini pengalaman berkat, karena Tuhan mempertemukan saya dengan beliau. Menurut saya beliau adalah sosok pribadi yang sederhana tapi luar biasa karena di sinilah saya banyak belajar dan akhirnya saya dapat mengenal diri sendiri secara jujur menerima diri apa adanya dan belajar mengenal orang lain. Saya belajar bicara apa adanya tanpa malu jika orang lain mengenali kekurangan saya. Hal yang paling mengasyikkan dan membuat saya nyaman adalah sikap yang tidak menonjolkan senioritas maupun jabatan. Tiba-tiba saya sadar bahwa rasa takut atau rasa minder itu hilang ketika mengobrol dengan beliau. Saya bisa mengungkapkan dan mengekspresikan diri apa adanya meskipun di tempat yang baru. Ini moment penting. Penting karena di sinilah saya merasa berubah dan menemukan makna kehadiran seseorang yang berdampak terhadap pribadi lain. Saya merasa hal ini sangat jauh berbeda ketika orang mulai bertopeng. Orang tidak berani menujukkan jati diri yang sebenarnya. Di sinilah saya tertolong.

Topeng menurut perspektif Injil

Kata ini merujuk pada aktor yang biasanya memakai topeng. Dalam kitab suci topeng bisa berarti munafik. Munafik adalah kata serapan dari bahasa Arab. Munafik sama artinya dengan hipokrit, istilah yang berasal dari bahasa Yunani yaitu hypokrites. Namun seiring perkembangan jaman, kata munafik mengalami perluasan arti, yang saat ini sering ditujukan bagi mereka yang suka berpura-pura dan menipu orang lain untuk kepentingan pribadinya. Kita bisa melihat sekarang bahwa kemunafikan terjadi di mana-mana dalam berbagai aspek kehidupan, entah dalam kehidupan personal, sekolah, politik, perdagangan, bahkan agama.

Menurut Alkitab, sifat munafik dimulai oleh roh yang tak kelihatan. Apabila kita menilik kembali asal-mula dosa menurut Alkitab, kita tahu bahwa iblis adalah penyebab manusia jatuh ke dalam dosa. Iblis memakai rupa ular sebagai topeng. Kemudian ia membujuk Hawa untuk makan buah pengetahuan dan menipunya dengan mengatakan bahwa dia akan menjadi sama seperti Allah. Dari cerita ini kita bisa menyimpulkan bahwa asal-mula mengapa manusia memiliki sifat berpura-pura untuk kepentingannya sendiri adalah dikarenakan oleh iblis.

Sekarang, kita akan mengetahui apa yang dikatakan Alkitab tentang orang munafik. Berikut ayat Alkitab tentang orang munafik :

  1. Lukas 6:42 dan Matius 7:3-5

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Di sini Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita jangan menghakimi orang lain karena kesalahan mereka. Tidak ada satu orang pun yang sempurna dan setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia cenderung peka terhadap kelemahan orang lain sedangkan mereka tidak menyadari kekurangan diri sendiri. Dan dalam Roma 2:1 juga dikatakan supaya jangan siapa pun menghakimi orang lain karena diri sendiri juga tidak bebas dari salah. Dengan menghakimi orang lain, maka kita akan ganti dihakimi.

Pada Matius 7:1-2 dikatakan supaya kita jangan menghakimi supaya kita tidak dihakimi. Karena ukuran yang kita gunakan untuk menghakimi orang lain akan dipakai juga untuk menghakimi diri kita sendiri.

  1. Matius 23:2-3

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

Yesus mengatakan hal ini di depan orang banyak dan murid-murid-Nya, Dia mengajarkan kepada mereka supaya tidak mencontoh perbuatan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Pada jaman Yesus, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dikenal akan kemunafikannya. Mereka memiliki banyak pengetahuan mengenai hukum Taurat, namun mereka tidak melakukannya dalam kehidupan nyata.

Mereka egois, gila hormat, menginginkan kedudukan yang tinggi, suka dipuji orang lain, dan sifat-sifat munafik lainnya yang bisa Anda baca pada Matius 23. Dan Yesus mengatakan, bahwa siapa yang meninggikan dirinya maka ia akan direndahkan dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Refleksi

Hal terpenting dalam catatan ini sebagai refleksi adalah:

  1. Meluangkan waktu sejenak setiap hari untuk menghadirkan dan memohon campur tangan Tuahan dalam setiap pengalaman hidup kita agar kita mampu menjalankan tugas yng diberikan Tuhan dalam menjaga dan merawat kehidupan di dunia ini
  2. Tuhan menciptakan setiap pribadi unik dan istimewa, maka jadilah diri sendiri, tampilkan diri seperti Tuhan mempunyai tujuan pada setiap pribadi
  3. Tunjukkan Jati diri dan buanglah topeng, mensyukuri hidup
  4. Temukan sosok pribadi yang mampu menginspirasi dan menyemangati dalam hidup kita agar hidup kita berdampak dan memberi warna bagi kehidupan sesama
  5. Hidup dan berbuah, memiliki hidup yang bermanfaat bagi kehidupan bersama
  6. Hidup adalah proses, menatap masa depan dengan penuh gairah, pantang menyerah

Semoga artikel ini dapat menjadi refleksi bagi kita semua supaya tidak terperangkap dalam kebiasaan munafik dan selalu mencontoh keteladanan Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *