Pendidikan Karakter 

Frans Borgias Suhadi S, S.Pd

(bagian 1)

 

Pendahuluan

Ketika menaiki tangga SMA Sint Louis dari sisi kanan, kita akan membaca sebuah spanduk berbentuk MMT yang bertuliskan ” Character First, Smart as Well”. Secara selayang pandang, saya berpendapat bahwa tulisan ini terlampau berani. Menjual dagangan dengan barang  yang sudah tidak popular. Di zaman milenial ini, semua orang silau akan inovasi ilmu. Semua orang mendewa- dewakan ilmu pengetahuan. Demikian juga dalam hal pendidikan,  semua orang tentu akan merasa bangga bila dapat sekolah di tempat yang mampu menawarkan inovasi ilmu pengetahuan yang tinggi. Seperti yang dikatakan oleh Benjamin Franklin , bahwa “seberapa pun tingkat kejeniusan seseorang, tapi tanpa pendidikan ilmu pengetahuan, ibaratnya seperti perak yang masih ada di dalam tambang.” Oleh karena itu barang siapa bisa menawarkan inovasi  ilmu pengetahuan dalam pendidikannya, orang akan berbondong- bondong mencarinya. Hal ini senada dengan yang ditulis oleh Sir John Lubbock, bahwa sistem pendidikan yang bijaksana setidaknya akan mengajarkan kepada kita betapa sedikitnya ilmu yang belum diketahui oleh manusia, seberapa banyak yang masih harus ia pelajari.

Namun benarkah pendapat saya, yang muncul secara selayang pandang ini?Apa sebenarnya yang sungguh dibutuhkan dalam pendidikan kita ini? Ilmu pengetahuan, atau karakter.Atau keduanya? Jika demikian, lalu bagaimana cara menggabungkannya? Seorang filsuf kuna (Aristoteles) mengatakan pada para muridnya bahwa mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama sekali. Dari pendapat di atas kita diajak bertanya, sebetulnya apa tujuan pendidikan itu? Seorang yang bernama Martin Luther King Jr, memberikan jawabnya demikian, ” Kegunaan pendidikan adalah mengajarkan seseorang berpikir intensif dan kritis. Kecerdasan dan karakter itulah tujuan pendidikan sesungguhnya.”  Pendapat di atas dikuatkan oleh C. S. Lewis  yang mengatakan bahwa  pendidikan ilmu pengetahuan, seberapa pun gunanya, tapi tanpa nilai(karakter), tampaknya hanya akan mencipatakan seorang iblis yang lebih pintar saja. Robert Green Ingersoll juga menguatkan bahwa memiliki karakter tanpa pendidikan ilmu pengetahuan adalah ribuan kali lebih baik daripada mempunyai banyak ilmu pengetahuan tapi tanpa karakter.”Karena, menurut Abraham H. Maslow bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah mengajarkan bahwa hidup itu berharga.Pernyataan – pernyataan para ahli pendidikan di atas seakan menunjukkan adanya tingkat kesenjangan antara pendidikan ilmu pengetahuan dengan pendidikan karakter.

Lalu apa yang akan terjadi jika kesenjangan antara ilmu pengetahuan dengan karakter semakin runcing? Mungkin akan seperti yang diungkapakan oleh Pramudya Ananta toer. Dia mengatakan, “Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip( karakter). Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya”

Atau barang kali akan terjadi banyak kekerasan di sekolah, dimana kehidupan bersama dan rasa aman diabaikan. Kak Seto Mulyadi pernah mengungkapkan hal yang senada dengan ini.Beliau mengatakan,” Pendidikan kita belum memenuhi tuntutan pendidikan karakter. Masih ada kekerasan di sekolah dan rumah, kurikulum semakin padat, dan cara mengajar yang belum ramah anak. “  Penyebab lain karena pendidikan kita belum efektif. John W. Gardner mengatakan bahwa banyak pendidikan saat ini yang berjalan sangat tidak efektif. Kita terlalu sering memberikan rangkaian bunga kapada para siswa, padahal, seharusnya, kita mengajarkan bagaimana cara menumbuhkan bunga itu. Atau barang kali akan menjadi seperti yang digambarkan oleh  YB. Mangun Wijaya tentang tanah air kita. Beliau berkata,”

Indonesia ini memang negeri yang unik, penuh dengan hal-hal yang seram serius, tetapi penuh dagelan dan badutan juga. Mengerikan tapi lucu, dilarang justru dicari dan amat laku, dianjurkan, disuruh tetapi malah diboikot, kalah tetapi justru menjadi amat populer dan menjadi pahlawan khalayak ramai, berjaya tetapi keok celaka, terpeleset tetapi dicemburui, aman tertib tetapi kacau balau, ngawur tetapi justru disenangi, sungguh misterius tetapi gamblang bagi semua orang. Membuat orang yang sudah banyak makan garam seperti saya ini geleng-geleng kepala tetapi sekaligus kalbu hati cekikikan.Entahlah, saya tidak tahu.Gelap memprihatinkan tetapi mengandung harapan fajar menyingsing, itulah Indonesia.

Dari itu, bagaimanapun kita membutuhkan pendidikan karakter. Seperti diungkapkan dalam kalimat di spaduk yang mengatakan, “ Character first, smart as well” Maka marilah kita melangkah maju. Kita cari, kita kejar, walau mungkin harus lewat jalan bertanya- tanya bagaimana menempatkan pendidikan krakter di sekolah kita? Jangan sampai terjadi seperti yang diamanatkan Nora Robert yang mengatakan,” Jika kamu tidak mengejar apa yang kamu inginkan, maka kamu tidak akan mendapatkannya. Jika kamu tidak bertanya maka jawabannya adalah tidak. Jika kamu tidak melangkah maju, kamu akan tetap berada di tempat yang sama.Dari pemikiran- pemikiran itu maka tulisan ini saya beri judul Pendidikan Karakter di SMA Sint Louis Semarang.

..bersambung bagian 2.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *