Warna mentari menyinarkan secercah harapan ‘tuk melangkah. Langkah-langkah kaki terasa begitu ringan pada pagi ini. Anginnya kencang dan pekatnya malah telah tertiup angin pagi yang mendatangkan warna baru dalam hidupku hari ini.

Kusenyumi dunia yang akan kutemui. Sejenak, sebaris tanya berbisik dihatiku, “warna apa yang akan kupakai dalam lukisan hidupku hari ini?” Ah, Biarlah. Apapun warnanya, semua punya makna yang harus kuartikan setiap hari bersama heningnya malam, sebelum mimpi malam membelaiku. Lagi pula, setiap warna mempunyai makna tersendiri. Mereka perpadu untuk kian melengkapi kekurangan dan kelebihan setiap warna itu.

Warna kehidupan terangkum dalam waktu yang tak mungkin terulang kembali. Kadang sempat berfikir, seandainya waktu yang lampau bisa kuputar kembali, mungkin aku bisa mengubah banyak hal. Namun, kusadari itu semua tak akan terulang kembali dan menjadi rangkaian kenangan yang tak perlu diratapi. Kenangan itu telah menjadi penghias hidup yang menjadikanku seperti saat ini.

Jejak-jejak langkah memang selalu meninggalkan bekasnya. Goresan peristiwa pun semakin jelas terlukis bersama sang waktu, tak sengaja aku terpaku oleh sebuah lukisan dari masa lalu. Begitu merona dan cantiknya lukisan itu. Ia seakan menyapaku dan tersenyum. Ada satu kata yang indah tertulis di lukisan itu. Lukisan itu bertuliskan “ibu”.

Ibu. Satu kata yang paling indah dan memberi hidup. Menatap dan memandangnya memberikanku hidup. Sejak aku berayun di kandungannya, ia telah memberikanku rasaa hangat dan nyaman. Didendangkannya lagu cinta dan harapan sehingga aku tertidur dengan tenang tanpa merasaa cemas.

Dialah yang pertama kali tersenyum memandangku saat aku mulai melihat cakrawala dunia. Sakitnya saat melahirkanku terganti dengan sungging manis bibirnya. Seuntai kata terdengar, “Anakku”. Dan kata yang terucap dari bibirku untuk pertama kali adalah, “Ibu”. Dalam ketertatihan melangkahi dunia, tapak demi tapak, tanpa henti senyumnya menemaniku. Apabila aku jatuh, tangan lembutnya sigap memegangku, menuntun penuh rasa percaya. “Kamu bisa”. Ucapnya. Aku pun bertumbuh pada tuntunannya.

Ia menjadi tempat segala tanya terjawab. Penghibur dikala sedih dan mampu membalut luka-luka hati kala aku beranjak dewasa. Saat aku sakit, ia merawatku dengan penuh kesabaran. Lukisan itu tiba-tiba memeluku dan seakan berbisik, “Sekarang giliranm, pergilah. Kau sudah mampu untuk melukis hidupmu sendiri”.

Kini, lukisan indah itu telah pergi. Barangkali bergabung dengan sang waktu, namun tetap terus memberikan semangat hidup. Goresan kisah bersamanya telah menjadi lukisan hidup yang akan terus ada sepanjang waktu.

Aku percaya, setiap hari selalu tercipta lukisan baru. Dalam lukisan itu ada kekuatan yang akan terus berlangsung sampai berakhirnya waktu. Masing-masing lukisan meninggalkan ceritanya dan meminta kita untuk memaknainya bersama heningnya malam.

Maka, setiap hari kita layak untuk mencintai setiap lukisan hidup kita. Niscaya kita akan menemukan hal yang terlihat biasa namn dibaliknya ada kekuatan luar biasa. Dia, lukisan hidup itu, akan mengusik tidur kita pada malam hari, supaya esoknya kita dapat terbangun dan bersyukur atas segala hal yang telah terlukis dalam hidup kita.

Semua lukisan hidup itu memberikan inspirasi dan rasa syukur sehingga hidup kita menjadi semakin lebih hidup dan cerah. Dan seperti seorang pelukis, kita harus menyelesaikan lukisan kita harus menyelesaikan lukisan kita masing-masing untuk setiap harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *